Posisi mahasiswa dalam ekonomi politik sosial Pesan Baru
>> Jumat, 02 April 2010 –
artikel
Oleh: Refki Ahmad Bentara
Hasil-hasil pembangunan ekonomi hingga kini belum merupakan sesuatu yang dapat memupuk kepercayaan diri-sendiri kita, dan menambah kesanggupan kita untuk membangun secara bersemangat. Seolah-olah rencana-rencana pembangunan dari pemerintah tidak merupakan suatu barang yang hidup untuk masyarakat kita secara kebulatan, meskipun pentingnya hal itu Rata Penuhditerima juga oleh daerah-daerah yang bersangkutan langsung. Kesan umum ialah bahwa, pembangunan ekonomi itu tinggal sebagai rencana-rencana pemerintah saja, dimana setiap kebijakan yang diambil berusaha sendiri-sendiri dan bukannya sebagai kebijakan pelaksanaan sebagian dari suatu rencana pembangunan umum yang integral.
Begitu pun dengan partai-partai politik. Partai-partai politik umumnya menyokong pembangunan ekonomi sebagai suatu semboyan umum. Akan tetapi kita melihat juga bahwa masalah pembangunan ekonomi tidak memegang peranan dalam pikiran kaum politikus partai sekarang.
Oleh sebab itu kerap timbul kesan bahwa pembangunan ekonomi kita ini seolah-olah setengah-setengah saja dikerjakan, seperti tak bias berangkat dan macet. Padahal, pembangunan ekonomi itu seharusnya merupakan penjelmaan suatu pergerakan rakyat yang dibimbing secara sadar oleh pemerintah.
Pemberdayaan masyarakat atau social empowerment memiliki implikasi politis, terutama dalam rangka pengembangan otonomi daerah. Sebab, partisipasi aktif masyarakat akan mendeterminasi tingkat signifikansi gerakan otonomi daerah. Sesungguhnya, konsep dan gerakan pemberdayaan masyarakat memusatkan perhatian pada realitas bahwa manusia ataupun masyarakat (rakyat) dapat mengalami berbagai hambatan dan kendala cultural serta structural dalam proses sekaligus gerak aktualisasi eksistensinya sehingga sulit membangkitkan dirinya. Apabila jika manusia atau masyarakat tersebut hidup ditengah ingar-bingar nya kantong-kantong alienasi dan disparitas social dan akut.
Supaya mampu menghadapi tantangan-tantangan ini, akan diperlukan juga kemampuan untuk mengadakan pembaruan-pembaruan, innovative capability yang lebih besar. Universitas-universitas kitalah yang seharusnya menjadi wadah bagi innovative capability masyarakat kita. Universitas-universitas kita dewasa ini nampaknya belum merupakan wadah semacam itu, biarpun ada cukup tanda-tanda yang menunjukkan bahwa potensinya ada. Persoalannya, kita harus berani mengutamakan tujuan itu dalam skala prioritas kita, dan kita harus berani membuang gejala-gejala konformisme dan formalisme yang masih banyak terdapat di universitas-universitas karena hubungan feodal antara guru dan mahasiswa.
