Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Posisi mahasiswa dalam ekonomi politik sosial Pesan Baru

Oleh: Refki Ahmad Bentara

Hasil-hasil pembangunan ekonomi hingga kini belum merupakan sesuatu yang dapat memupuk kepercayaan diri-sendiri kita, dan menambah kesanggupan kita untuk membangun secara bersemangat. Seolah-olah rencana-rencana pembangunan dari pemerintah tidak merupakan suatu barang yang hidup untuk masyarakat kita secara kebulatan, meskipun pentingnya hal itu Rata Penuhditerima juga oleh daerah-daerah yang bersangkutan langsung. Kesan umum ialah bahwa, pembangunan ekonomi itu tinggal sebagai rencana-rencana pemerintah saja, dimana setiap kebijakan yang diambil berusaha sendiri-sendiri dan bukannya sebagai kebijakan pelaksanaan sebagian dari suatu rencana pembangunan umum yang integral.

Begitu pun dengan partai-partai politik. Partai-partai politik umumnya menyokong pembangunan ekonomi sebagai suatu semboyan umum. Akan tetapi kita melihat juga bahwa masalah pembangunan ekonomi tidak memegang peranan dalam pikiran kaum politikus partai sekarang.
Oleh sebab itu kerap timbul kesan bahwa pembangunan ekonomi kita ini seolah-olah setengah-setengah saja dikerjakan, seperti tak bias berangkat dan macet. Padahal, pembangunan ekonomi itu seharusnya merupakan penjelmaan suatu pergerakan rakyat yang dibimbing secara sadar oleh pemerintah.

Pemberdayaan masyarakat atau social empowerment memiliki implikasi politis, terutama dalam rangka pengembangan otonomi daerah. Sebab, partisipasi aktif masyarakat akan mendeterminasi tingkat signifikansi gerakan otonomi daerah. Sesungguhnya, konsep dan gerakan pemberdayaan masyarakat memusatkan perhatian pada realitas bahwa manusia ataupun masyarakat (rakyat) dapat mengalami berbagai hambatan dan kendala cultural serta structural dalam proses sekaligus gerak aktualisasi eksistensinya sehingga sulit membangkitkan dirinya. Apabila jika manusia atau masyarakat tersebut hidup ditengah ingar-bingar nya kantong-kantong alienasi dan disparitas social dan akut.

Supaya mampu menghadapi tantangan-tantangan ini, akan diperlukan juga kemampuan untuk mengadakan pembaruan-pembaruan, innovative capability yang lebih besar. Universitas-universitas kitalah yang seharusnya menjadi wadah bagi innovative capability masyarakat kita. Universitas-universitas kita dewasa ini nampaknya belum merupakan wadah semacam itu, biarpun ada cukup tanda-tanda yang menunjukkan bahwa potensinya ada. Persoalannya, kita harus berani mengutamakan tujuan itu dalam skala prioritas kita, dan kita harus berani membuang gejala-gejala konformisme dan formalisme yang masih banyak terdapat di universitas-universitas karena hubungan feodal antara guru dan mahasiswa.

Read More......

Mahasiswa Larut Dalam Euforia Pemilihan Ketua-Wakil BEM Universitas.

Oleh: Safri MS.

Mahasiswa adalah siswa ditinggikan dalam intelektual. Mahasiswa juga dikatakan sebagai agen of change (agen perubahan), Mahasiswa juga dikatakan sebagai pengontrol sosial dan juga mahasiswa dikatakan sebagai grup presur (menekan kebikajan yang tak memihak). Itu adalah semua kata sandang yang diberikan kepada mahasiswa dimaknai sebagai satu kebanggaan tersendiri bagi kaum mahasiswa. Kata sandang tersebut hanya sebatas kata saja kalau dilihat dari gerakan mahasiswa itu sendiri (hanya dimulut saja-melekat pada silatan lidah). Bukan maksud saya menafikan gerakan mahasiswa (ada gerakan mahasiswa yang tetap eksis membela rakyat), tetapi reflkesi dari perjalanan mahasiswa semenjak masa reformasi. Roh idealisme mahasiswa lenyap sedikit demi sedikit ditelan usangnya usia mereka yang dibarengi ke apatisannya (tidak kritis), tidak adanya pengkaderan dari senior-senior dikampus (lahirnya ruang sekat antara junior dengan senior-kautanya budaya patrnase), mahasiswa terkesan lambat dalam merespon isu-isu kerakyatan (padahal dia lahir dan bagian dari rakyat) itupun kalau ada respon(hilang kepekaaan sosial), mahasiswa terkotak-kotak (terfragmentasi-baik itu antar intern dan ektern), tidak dapat memilah personal problem (permasalahn pribadi), , hilangnya solidaritas antar mahasiswa hilang (tidak solid bersama-ego sektoral), lebih parahnya mahasiswa sekarang hanya menjadi gerombolan-gerombolan saja di kantin-kantin dan mendapatkan kata sandang baru yakni "agen proposal" , sangat berbeda dengan historis mahasiswa sebelum reformasi yang selalu berdikusi berjalan dengan satu tujuan dan isu yang sama.

Berbicara dalam konteks internal mahasiswa sekarang , saya tidak perlu jauh melihat masalah ke universitas lain karena karena secara umunya disemua universitas permasalahannya sekarang seperti itu, saya melihat ke tempat dimana saya berkuliah (kalian pasti tau dimana tempatnya-sering dibilang sama orang kandang lembu). Mahasiswa umunya seperti yang saya sebutkan tadi diatas dan tidak perlu saya bahas bertele-tele, mahasiswa unjuk gigi kekritisannya diwaktu akan diselenggrakan pemilihan ketua BEM Universitas, BEM Fakultas dan tatanan dibawahnya, disaat ditulah lahir moment diskusi antar mahasiswa dan terjalinnya kekuatan emosional so pastinya itu sebagai permulaan kampanye saja untuk mendapatka kontituen setiap agar memilihnya. Mahasiswa sibuk dalam memperbicangkan siapa yang harus didukung dan mengabaikan kepekaan sosialnya adalah sebuah EUFORIA yang sangat mendalam (sebuah Kritikan) dengan konstelasi politik dikampus (apakah ada idealisme atau tidak?) yang kedewaa dalam memimpin dan berpolitik hampir bisa dipastikan tidak ada. Sering pula terjadi perdebatan panas antar kelompok baik itu pro atau kontra dari calon-calon yang akan naik, memainkan black campian, membunuh karakter lawan (seharusnya mahasiswa itu bersatu), dulum pernah ada selembaran-selebaran gelap, ada yang menjelakkan kandidat lain (saya harap jangan dinafikan karena realitasnya).

tentunya dari konstelasi (dinamika) mahasiswa di kampus saat menjelas akan diadakan pemilihan raya (pemira) mahasiswa dalam memilih Ketua BEM tentunya ada segi posistif yang berlangsung. DITANDAI dengan terjalinnya komunikasi anatar mahasiswa senior dengan juniornya yang berpengaruh terhadap kekuatan emosisonal juga menjadi sebuah motivator terhadap yang baru menyandang status mahasiswa (terserah ada kepentingan dibaliknya), kemudian mahasiswa kekritisannya meningkat dan kepaatisannnya menurun(terkorelasikan dengan historis disebabkan mengikuti setiap perkembangan dari persaingan antar calon ketua-wakil BEM yang maju baik itu diadakan nya rapat yang didalam nya ada diskusi -diskusi rutin yang memetakan masalah dan strategi taktiknya, mahasiswa mengikuti debat kandidat dalam menyampaikan isi kampanye dengan visi-misi, program dan janji-janji politik terhadap mahsiswa agar menjadi wakil yang selalu mahasiswa. Kendatipun demikian dari hal posistif itu adanya keburukan yang mengiris hati mahasiswa kalau semuanya mereka tau dan tidak apatis yakni hal-hal yang dilakukan berkaitan dengan pemilihan Ketua dan wakil ketua BEM universitas atau fakultas yang hanya sebatas ingin meraup suara agar memuluskan langkah maju dan mendapatkan kekuasaan (kursi empuk), yang menjalin pendekatan emosional memilki deal-deal politik dengan calon-calon yang maju sesuai dengan bergaining yang mereka tawarkan atur sedemikian rupa. Itulah saya mengatakan bahwa mahasiwa larut dalam ber EUFORIA pemilihan ketua-wakil BEM Universitas.

menoleh pada realitas kebelakang (fakta historis) pada periode sebelumnya janji-janji hanyalah sebatas omongan dimulut, visi-misi dan program yang disampaikan hanya menjadi penghias atau coretan di kertas putis yang ditempel di dinding-dinding kampus. yang sudah terpilih melupakan akan hal yang dulu di ucapkannya menjadi sebuah kata-kata manis berumtasi menjadi noda hitam didada mahasiswa. disaat mendapatkan kekuasaan mereka sibuk dengan proprosal-proposal (agen proprosal), membuat acara semibar yang tidak memberikan kontributif signifikan terhadap kemajuan kampus khususnya dan kemajuan masyarakat/rakyat/bangsa sesuai dengan Tri darma Perguruan tingggi, panas nya hanya sebatas acara saja dan tidak melahirkan rekomendasi-rekomendasi yang mantap, bukan tidak ada erkomendasi tapi ada akan tetapi tidak bagus rekomendasinya yang diucapkan salah satu ketua panitia sangat membekas pada hati saya sampai dengan sekarang. Untuk apa diadakan acara baik kecil ada besar sampai SE-daerah-Prov-Indo jikalau seperti itu ucapanya, yang ada hanya menghabskan anggaran saja yang besar tentunya rugi donk dan dapat disimpulkan acaranya GAGAL. Atau ada lain/ane-aneh dibelakang pembuataan acara tersebut, misalnya dengan dugaan yang muncul dari mahasiswa bahwa itu-tu hanya untuk mendapatkan ketebalan kantongnya panitia (perlu diwawancarai mahasiswa untuk lebih jelasnya lagi). dan apa bila ada konflik antar kabinet/jajaran pasca pembuatan acara juga menimbulkan syak wasangka dari mahasiswa saat berbincang dikantin-kantin dengan kata-kata "KKN-HANA SAMA WUEK-MARK UP" (semoga saja apa yang di omongin di kantin-kantin itu semuanya salah, ya semoga saja...!

Kemudian jika melihat sepak terjang mereka dalam kerja-kerjanya lemah dalam hal mengontrol kejadian-kejadian dikampus baik itu orang akademik dan lain-lainnya, tidak mengavodkasikan kepentingan-kepentingan mahasiswa seperti kebijakan yang pro mahasiswa, pembangunan kampus dibarengi dengan infrastruktur yang dibutuhkan termasuk juga referensi yang baru dan tenaga pendidik yang berkualitas, birokrasi yang tidak menyulitkan mahasiswa, adanya transfransi dalam pengelolaan keuangan dan lain-lain. Di segi lingkungan mahasiswa membututuhkan suasana yang nyaman contoh kampus tidak panas, lingkungan kampus sejuk dan rimbun, tidak berkeliran lembu-lembu dan adanya taik-taik lembu yang berserakan dimana-mana yang secara otomatis mengganggu kosentrasi belajar mahasiswa (minat belajarnya). Pernah saya dengan kata-kata "mabok bak tacom be ek lumoe pajan tenang tabelajar (semoga juga hal yang di ungkapkan ini tidak benar-ya semoga saja). seharusnya Lembaga-lembaga mahasiswa harus menjadi corong mahasiswa dalam mendapatkan-mewujudkan keinginannya serta sebagai keukuatan pengotrol dikampus.

Dari semua coretan-coretan diatas harus kita ambil sesuatu hikmah untuk memperbaiki semua yang terjadi sebelum berbagai permasalahan semakin bertambah dan kekecewaan mahasiswa tidak terakumulasi. Mari kita bangun kampus untuk lebih maju dengan cara duduk mendiskusikan semua persoalan yang nampak jelas dimata kita supaya mendapatkan jababannya/resolusi untuk menyelesaikannya, serta membangun kembali gerakan sosial mahasiswa demi kehidupan rakyat yang lebih baik. janganlah membuat mahasiswa larut dalam euforia pemilihan ketua-wakil BEM universitas yang berdampak pada keapatisan, pegesekan dan konflik dikampus.sikapi dengan otak dingin, Lepaskan semua ego-ego yang ada khususnya pada elit-elit dikampus dengan tujuan dan isu yang sama, sebagai alternatifnya dan melahirkan gerakan alternatif pula. Sebuah pertanyaan besar yaitu adakah niat baik dari semua komponen yang ada dilampus untuk duduk bersam-sama dan mendiskusikannya agar lahirnya resolusi/jawaban.

Read More......

Konsep Pemilihan Rektor Universitas Yang Ideal Menurut Mahasiswa

Universitas ataupun Perguruan Tinggi merupakan suatu tempat untuk menuntut ilmu setelah masa SMA, tampuk pimpinannya berapa pada seorang rektor atau nama lainnya sebagai jabatan kekuasaan Politis. Sistem yang mengatur tentang bagaimana mekanisme untuk memilih dan dipilih sekarang jika diliat di luar kampus seperti lembaga legislatif dan eksekutif telah mencerminkan perubahan besar dan demokratis yaitu pemilihannya diadakan langsung dan dipilih langsung oleh rakyat dan langsung bertanggung jawab langsung (kekuasaan tertinggi ditangan rakyat) kepada rakyat, kalau dulu hanya dipilih oleh orang-orang (baca elit) yang duduk di kursi parlemen saja dan bertanggung jawab kepada lembaga yang menaungi para elit-elit tersebut yang saran dengan politisasi akan deal-deal politik kelompok semata tergantung bergaining yang ditawarkan dan ekonomis (ekonomi politik-modal politik), dinamika ini tentunya sarat akan KKN. Berbicara dalam konteks kampus sebagai lembaga yang menjadi tempat belajar,mengasah wawasan untuk mencipta pemikir dan elit-elit baru terhadap dunia yang lebih luas dan berazaskan Tri Darma Perguruan Tinggi (Pendidikan,penelitian dan pengabdian kepada masyarakat). Dinamika dikampus selalu dikaitkan dengan idealisme mahasiswa, pada akademisi juga dikaitkan dengan kode etik dan idealismenya sendiri. Akan tetepai konsep pemilihan pimpinan untuk duduk ditampuk kekuasaan tertinggi masih memakai motode lama yaitu dipilih oleh senat dan perwakilan dari dosen, hal ini tentunya sangat berkaitan dengan sempitnya ruang demokrasi dan dalam tatacaranya juga sangat rentan akan KKN. Siapa saja calon yang akan lahir akan memainkan mainset pengaruh kekuasaan yang dimilikinya (termasuk dukungan dari luar) diperbantukan dengan bergaining politik dan ekonominya si calon rektor tersebut (Tingkat Universitas-), dan bisa mungkin pula memakai kekuatan yang dimiliki mahasiswa untuk mendapatkan tujuannya. Pada Penyelengara pemilihan diragukan ke independentnya karena pemilihnya hanya senat dan penunjukan beberapa perwakilan dosen itupun perwakilan dosen sarat akan intervensi. kalau dilogikakan para senat mempunyai bergaining (tawaran keuntungan) dengan salah satu calon rektor yang akan naik maka dia akan mempengaruhi anggota senat untuk jumlah suara dalam pemilihan. Dilain pihak yaitu pada mahasiswa baik itu kelompok mahasiswa yang mendukung pemilihan salah satu calon tergantung apa yang ditawarka pada diri mahasisa dalam hal ini stackholder-stackholder mahasiswa yang dapat mempengaruhi mahasiswa lainnya. memakai kekuatan mahasiswa dapat berujung pada perpecahan mahasiswa menjadikan kelompok-kelompok baru (terfragmentasikan) dan bisa pula menjadi penyebab caos (kerusuhan dikampus) dari dinamika perpolitikan kaum akademisi dalam persaingannya. Seyogianya metode lama ini ditinggalkan kemudian mengganti dengan motode baru yang melibatkan mahasiswa agar menghilangkan bau-bau KKN, lebih efektif dalam menciptakan kecerdasan mahasiswa, metode baru yang sudah jauh hari diterapkan dalam ranah pemilihan pejabat negara (Pemilu dan Pilkada).

Coba kita liat hasil dari konsep pemilihan rektor dengan dipilih oleh anggota senat dan perwakilan dosen yang hasilnya menciptakan ketegangan-ketengan dan menggangu proses belajar mengajar dikampus. Anggota senat ditambah perwakilan jumlah nya sangat sedikit yang sangat muda terpengaruh dengan intervensi dari kelompok tertentu dan egosentris kedaerahkan nya sangat kental sehingga menutup kesempatan calon-calon rektor dari luar kampus yang ingin maju ke bursa pemilihan rektor universitas kalah suara (dukungan kertas suara) dari calon rektor didalam, dikarena anggota senat dan perwakilan dosen kekuatan emosionalnya sangat dekat dengan yang didalam. saya menilai dalam persoalan calon luar yang ingin maju sebagai rektor universitas sah-sah saja sesuai dengan perturan perundang-undangan yang berlaku, dia memiliki kapasistas yang bagus dalam mengisi kursi rektor yang tersinergiskan dan berkorelasi terhadap pembangunan kampus baik itu sarana dan prasarana pendukung (gedung, lap, buku-buku baru, tenaga pangajar yang berkualitas, birokrasi yang tidak menyulitkan mahasiswa dan dosen), bersifat transfaransi dan akuntable. Monoleh pada historis selama ini, mahasiswa sering takut akan kekuatan dan intervensi dari akademisi yang mempunyai kekuasaan dan kepentingan tertentu, gerakan mahasiswa tiarap dalam arah kontrol sosial (luar dan dalam kampus) sebagai group presure merupakan efek dari NKK/BKK yang membuat mahasiswa sulit dalam birokrasi.

Seharusnya diterapkan konsep yang memang lebih demokrastis lebih cepat maka lebih baik pula hasil yang diharapkan, terkadang lahirnya perlakuan-perlakuan diskriminatif pada mahasiswa yang menimbulkan ruang kesenjangan sosial antara mahasiswa (baca penyebab konflik), jikalau disinggung dengan lahirnya UU.No.9 Tahun 2009 mahasiswa dihadapkan pada kondisi sosial ekonomis yang merugikan mahasiswa (uang kuliah mahal, orang miskin tidak dapat kuliah) yang track lajunya menghilangkan kepekaan dan solidaritas sosial rakyat, hanya orang kaya dan kalangan-kalangan tertentu saja bisa kuliah ini berbanding terbalik dengan semangat tujuan mewujudkan kecerdasan bangsa. sedangkan konsep yang melibatkan mahasiswa akan menciptakan ruang gerak mahasiswa dalam hal pengontrolan, sehingga kebijakan-kebijakan yang mau dikeluarkan tidak bisa sewena-wena nya pasti dikontrol mahasiswa. kendati demikian konsep melibatkan mahasiswa dalam mahsiswa akan merugikan kelompok-kelompok tertentu yangberwatak feodalisme dan ideologi kapitalisme (neoliberalis=penajajahan gaya baru. Alangkah lebih bijaknya jika ada persoalan-persolan didiskusikan dengan semua komponen yang ada dikampus untuk menapatkan resolusi-resolusi yang elegan agar kelak menyelesaikan persoalan yang terjadi, bukan melakukan hal sebaliknya yang jelas-jelas kotor (memperkeruh suasana), hasilnya pun kotor. Apapun ceritanya mahasiswa menginginkan kemajuan,Birokrasi yang bagus, akuntabel, mehilangkan praktek KKN dan konsep ini harus segera diterapkan, jika sudah ada yang menerapkan itu bagus sebagai landasan awal kemajuan, jika pada universitas-universitas yang belum menerapkan konsep keterlibatan mahasiswa harus dilakukan secepatnya sebelum mahasiswa bangkitt dan mengambil jalan-jalan yang keras misalnya siapa pasang badan dalam memperjuangkanya dengan segala resiko yang harus ditanggung (memakan korban).

Berbagai pendapat menghiasi pemilihan rektor di universitas untuk membawa kampus kerarah yang lebih demokratis, efektif, efisien dan transfaran. dan tidak bisa dipungkiri menimbulkan pro dan kontra dari konsep pemilihan rektor dengan melibatkan mahasiswa dalam pemilihan langsung (yang kontra mungkin takut akan kehilangan kekuasaannya). Saya sendiri sebagai mahasiswa berpendapat bahwa mahasiswa harus dilibatkan dalam pemilihan rektor di suatu universitas sehingga mahasiswa menjadi suatu kekuatan besar dalam mengontrol kepemimpinan dan kinerja sang rektor yang terpilih dan rektor pro kepada mahsiswa dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan (tidak merugikan mahasiswa), yang bertujuan menciptakan kecerdasan berpikir mahaisswa kearah yang lebih kritis sesuai dengan Tri Darma perguruan Tinggi dalam mewujudkan kecerdasan bangsa. Dalam berorganisasi mahasiswa harus peka terhadap keadaan ekonomis soaial rakyat, dengan melakukan-melakukan diskusi-diskusi, melahirkan kelompok kajian untuk mengabdikan diri kepada masyarakat, mengontrol dan mengawal real bangsa dan didukung oleh peraturan kampus yang pro pada mahasiswa untuk meruntuhkan menara gading dari konsep watak feodal yang tak terdemokrastiskan adalah suatu capaian konsep.

Read More......

About This Blog

  © Blogger template Shush by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP