Mahasiswa Larut Dalam Euforia Pemilihan Ketua-Wakil BEM Universitas.
>> Kamis, 01 April 2010 –
artikel
Oleh: Safri MS.
Mahasiswa adalah siswa ditinggikan dalam intelektual. Mahasiswa juga dikatakan sebagai agen of change (agen perubahan), Mahasiswa juga dikatakan sebagai pengontrol sosial dan juga mahasiswa dikatakan sebagai grup presur (menekan kebikajan yang tak memihak). Itu adalah semua kata sandang yang diberikan kepada mahasiswa dimaknai sebagai satu kebanggaan tersendiri bagi kaum mahasiswa. Kata sandang tersebut hanya sebatas kata saja kalau dilihat dari gerakan mahasiswa itu sendiri (hanya dimulut saja-melekat pada silatan lidah). Bukan maksud saya menafikan gerakan mahasiswa (ada gerakan mahasiswa yang tetap eksis membela rakyat), tetapi reflkesi dari perjalanan mahasiswa semenjak masa reformasi. Roh idealisme mahasiswa lenyap sedikit demi sedikit ditelan usangnya usia mereka yang dibarengi ke apatisannya (tidak kritis), tidak adanya pengkaderan dari senior-senior dikampus (lahirnya ruang sekat antara junior dengan senior-kautanya budaya patrnase), mahasiswa terkesan lambat dalam merespon isu-isu kerakyatan (padahal dia lahir dan bagian dari rakyat) itupun kalau ada respon(hilang kepekaaan sosial), mahasiswa terkotak-kotak (terfragmentasi-baik itu antar intern dan ektern), tidak dapat memilah personal problem (permasalahn pribadi), , hilangnya solidaritas antar mahasiswa hilang (tidak solid bersama-ego sektoral), lebih parahnya mahasiswa sekarang hanya menjadi gerombolan-gerombolan saja di kantin-kantin dan mendapatkan kata sandang baru yakni "agen proposal" , sangat berbeda dengan historis mahasiswa sebelum reformasi yang selalu berdikusi berjalan dengan satu tujuan dan isu yang sama.
Berbicara dalam konteks internal mahasiswa sekarang , saya tidak perlu jauh melihat masalah ke universitas lain karena karena secara umunya disemua universitas permasalahannya sekarang seperti itu, saya melihat ke tempat dimana saya berkuliah (kalian pasti tau dimana tempatnya-sering dibilang sama orang kandang lembu). Mahasiswa umunya seperti yang saya sebutkan tadi diatas dan tidak perlu saya bahas bertele-tele, mahasiswa unjuk gigi kekritisannya diwaktu akan diselenggrakan pemilihan ketua BEM Universitas, BEM Fakultas dan tatanan dibawahnya, disaat ditulah lahir moment diskusi antar mahasiswa dan terjalinnya kekuatan emosional so pastinya itu sebagai permulaan kampanye saja untuk mendapatka kontituen setiap agar memilihnya. Mahasiswa sibuk dalam memperbicangkan siapa yang harus didukung dan mengabaikan kepekaan sosialnya adalah sebuah EUFORIA yang sangat mendalam (sebuah Kritikan) dengan konstelasi politik dikampus (apakah ada idealisme atau tidak?) yang kedewaa dalam memimpin dan berpolitik hampir bisa dipastikan tidak ada. Sering pula terjadi perdebatan panas antar kelompok baik itu pro atau kontra dari calon-calon yang akan naik, memainkan black campian, membunuh karakter lawan (seharusnya mahasiswa itu bersatu), dulum pernah ada selembaran-selebaran gelap, ada yang menjelakkan kandidat lain (saya harap jangan dinafikan karena realitasnya).
tentunya dari konstelasi (dinamika) mahasiswa di kampus saat menjelas akan diadakan pemilihan raya (pemira) mahasiswa dalam memilih Ketua BEM tentunya ada segi posistif yang berlangsung. DITANDAI dengan terjalinnya komunikasi anatar mahasiswa senior dengan juniornya yang berpengaruh terhadap kekuatan emosisonal juga menjadi sebuah motivator terhadap yang baru menyandang status mahasiswa (terserah ada kepentingan dibaliknya), kemudian mahasiswa kekritisannya meningkat dan kepaatisannnya menurun(terkorelasikan dengan historis disebabkan mengikuti setiap perkembangan dari persaingan antar calon ketua-wakil BEM yang maju baik itu diadakan nya rapat yang didalam nya ada diskusi -diskusi rutin yang memetakan masalah dan strategi taktiknya, mahasiswa mengikuti debat kandidat dalam menyampaikan isi kampanye dengan visi-misi, program dan janji-janji politik terhadap mahsiswa agar menjadi wakil yang selalu mahasiswa. Kendatipun demikian dari hal posistif itu adanya keburukan yang mengiris hati mahasiswa kalau semuanya mereka tau dan tidak apatis yakni hal-hal yang dilakukan berkaitan dengan pemilihan Ketua dan wakil ketua BEM universitas atau fakultas yang hanya sebatas ingin meraup suara agar memuluskan langkah maju dan mendapatkan kekuasaan (kursi empuk), yang menjalin pendekatan emosional memilki deal-deal politik dengan calon-calon yang maju sesuai dengan bergaining yang mereka tawarkan atur sedemikian rupa. Itulah saya mengatakan bahwa mahasiwa larut dalam ber EUFORIA pemilihan ketua-wakil BEM Universitas.
menoleh pada realitas kebelakang (fakta historis) pada periode sebelumnya janji-janji hanyalah sebatas omongan dimulut, visi-misi dan program yang disampaikan hanya menjadi penghias atau coretan di kertas putis yang ditempel di dinding-dinding kampus. yang sudah terpilih melupakan akan hal yang dulu di ucapkannya menjadi sebuah kata-kata manis berumtasi menjadi noda hitam didada mahasiswa. disaat mendapatkan kekuasaan mereka sibuk dengan proprosal-proposal (agen proprosal), membuat acara semibar yang tidak memberikan kontributif signifikan terhadap kemajuan kampus khususnya dan kemajuan masyarakat/rakyat/bangsa sesuai dengan Tri darma Perguruan tingggi, panas nya hanya sebatas acara saja dan tidak melahirkan rekomendasi-rekomendasi yang mantap, bukan tidak ada erkomendasi tapi ada akan tetapi tidak bagus rekomendasinya yang diucapkan salah satu ketua panitia sangat membekas pada hati saya sampai dengan sekarang. Untuk apa diadakan acara baik kecil ada besar sampai SE-daerah-Prov-Indo jikalau seperti itu ucapanya, yang ada hanya menghabskan anggaran saja yang besar tentunya rugi donk dan dapat disimpulkan acaranya GAGAL. Atau ada lain/ane-aneh dibelakang pembuataan acara tersebut, misalnya dengan dugaan yang muncul dari mahasiswa bahwa itu-tu hanya untuk mendapatkan ketebalan kantongnya panitia (perlu diwawancarai mahasiswa untuk lebih jelasnya lagi). dan apa bila ada konflik antar kabinet/jajaran pasca pembuatan acara juga menimbulkan syak wasangka dari mahasiswa saat berbincang dikantin-kantin dengan kata-kata "KKN-HANA SAMA WUEK-MARK UP" (semoga saja apa yang di omongin di kantin-kantin itu semuanya salah, ya semoga saja...!
Kemudian jika melihat sepak terjang mereka dalam kerja-kerjanya lemah dalam hal mengontrol kejadian-kejadian dikampus baik itu orang akademik dan lain-lainnya, tidak mengavodkasikan kepentingan-kepentingan mahasiswa seperti kebijakan yang pro mahasiswa, pembangunan kampus dibarengi dengan infrastruktur yang dibutuhkan termasuk juga referensi yang baru dan tenaga pendidik yang berkualitas, birokrasi yang tidak menyulitkan mahasiswa, adanya transfransi dalam pengelolaan keuangan dan lain-lain. Di segi lingkungan mahasiswa membututuhkan suasana yang nyaman contoh kampus tidak panas, lingkungan kampus sejuk dan rimbun, tidak berkeliran lembu-lembu dan adanya taik-taik lembu yang berserakan dimana-mana yang secara otomatis mengganggu kosentrasi belajar mahasiswa (minat belajarnya). Pernah saya dengan kata-kata "mabok bak tacom be ek lumoe pajan tenang tabelajar (semoga juga hal yang di ungkapkan ini tidak benar-ya semoga saja). seharusnya Lembaga-lembaga mahasiswa harus menjadi corong mahasiswa dalam mendapatkan-mewujudkan keinginannya serta sebagai keukuatan pengotrol dikampus.
Dari semua coretan-coretan diatas harus kita ambil sesuatu hikmah untuk memperbaiki semua yang terjadi sebelum berbagai permasalahan semakin bertambah dan kekecewaan mahasiswa tidak terakumulasi. Mari kita bangun kampus untuk lebih maju dengan cara duduk mendiskusikan semua persoalan yang nampak jelas dimata kita supaya mendapatkan jababannya/resolusi untuk menyelesaikannya, serta membangun kembali gerakan sosial mahasiswa demi kehidupan rakyat yang lebih baik. janganlah membuat mahasiswa larut dalam euforia pemilihan ketua-wakil BEM universitas yang berdampak pada keapatisan, pegesekan dan konflik dikampus.sikapi dengan otak dingin, Lepaskan semua ego-ego yang ada khususnya pada elit-elit dikampus dengan tujuan dan isu yang sama, sebagai alternatifnya dan melahirkan gerakan alternatif pula. Sebuah pertanyaan besar yaitu adakah niat baik dari semua komponen yang ada dilampus untuk duduk bersam-sama dan mendiskusikannya agar lahirnya resolusi/jawaban.
