PERDAMAIAN ACEH DIHADAPKAN DENGAN KONTRADIKSI POKOK YANG DIHADAPI RAKYAT
PERDAMAIAN ACEH DIHADAPKAN DENGAN KONTRADIKSI POKOK YANG DIHADAPI RAKYAT
Oleh: Safri MS
Aceh adalah sebuah daerah yang berada di ujung paling barat pulau sumatra di Indonesia, wilayah ini historisnya selalu dalam keadaan konflik sampai yang terakhirnya memakan waktu selama tiga puluh tahun lebih lama, konlik ini dilandaskan atas kekecewaan terhadap pemerintah pusat akan ekonomis dan ketidakadilan. Konflik yang sekian lama telah membuat daerah ini terisolir dari dunia luar, memhancurkan semua segi kehidupan rakyat tak bisa dipungkiri lagi aceh mengalami kehancuran, merengguk korban jiwa sangat banyak dari rakyat sipil yang tak berdosa, pendidikan aceh jauh merosot. Pada tahun 2004 silam terjadilah sebuah bencana alam yang dikenal dengan nama gempa dan tsunami yang menelan korban jiwa hingga ratusan ribu. Dunia pun tersentak akan akan berita dari daerah yang dilanda konflik ini, semua negara bergerak mengulurkan tangan nya atas nama kemanusian untuk membantu musibah ini, berbagai sumbangan diterbangkan ke aceh untuk membantu korban bencana alam, mulai dari bantuan logistik sampai pada bantuan dana sangat mengalir deras ke aceh untuk menata kembali aceh aceh yang telah porak poranda dengan rehabilitasi dan rekontruks. Peristiwa ini mengubah arah politik aceh sedang konflik, Setahun kemudian tepatnya pada tanggal 15 Agustus diHelsinki Finlandia terjadilah peristiwa bersejarah yaitu perdamaian Antara kedua kelompok yang bertikai yakni GAM dan RI yang kemudian lahirnya MoU. Perdamaian itu menjadi roh dan harapan baru rakyat aceh, bermuaralah keran politik aceh ke Euvoria, dikarena telah ada landasanAceh dalam berpolitik yang dituangkan dalam UU. No.11 Thn 2006 lebih dikenal dengan nama UUPA, melaju ke pilkada yang bisa di ikuti dari jalur independent dan akhirnya yang independent ini terpilih dan berkuasa sebagai elit baru menggantikan elit yang lama, dan terus melaju pada lahirnya lahirlah Partai Politik Lokal dan akhirnya pun parlok pun mendapatkan antusias dari rakyat aceh dengan memberikan kepercayaan kepada mereka untuk melayang ke parlemen.
Akan tetapi Perdamaian dalam perjalanannya juga masih ada intimidasi dari kelompok-kelompok tertentu dengan berbagai kepentingannya pula hal ini tentunya tidak bisa dipungkiri karena daerah yang baru selesai dari konflik di anggap wajar umunya pun belum pas Lima tahun. Pasca berakhirnya masa tugas BRR di Aceh pun melahirkan permasalahan baru yaitu angka pengangguran meningkat dratis telah mempengaruhi ekomonis rakyat dan belum adanya konsep yang pasti untuk menanggulangbanyak menuai protes dari rakyat di akibat pembagian dan pembangunan rumah . jika dikaitkan dengan korban Tsunami pemandangan miris pun masih nampak begitu jelas pada mata kita mulai masih adanya korban tsunami yang masih tinggal di barak-barak pengungsian dan begitu jelas mereka belum mendapatkan rumah bantuan, jika pun disinggung pada rumah bantuan pun banyak tidak menyentuh sasaran yang sebenarnya bisa diduga sarat akan unsur KKN, itu belum semuanya permasalahan yang ada kalau tidak di tulis pun orang sudah tau, apakah itu dalam bidang pendidikan, bidang kesehatan atau apalah yang lainya. Aceh yang sekarang ini di pimpin oleh orang tang dipercaya rakyat dari jalur independent melahirkan beberapa konsep terkait untuk membangun aceh, contoh Kredit peumakmu naggroe ini pun berjalan stagnan, membuka lahan baru yang ini pun tidak produktif malah menghancurkan ekosistem alam yang nanti menuai resiko bencana alam misalnya longsor dan banjir nah jika dikaitkan dengan jeda tebang yang diterapkan oleh gubernur ini menambah kekecewaan yakni hutan tambah gundul, Kemudian di lahirkan konsep Aceh Green yang menjadi primadona dari sosok elit pemimpin baru aceh ini yang mana mendapat tanggapan baik dari gubernur California dan di undang ke AS. Konsep ini pun hanya menjadi isapan jepol belaka terhadap kondisi kehijauan Aceh (baca hutan menjadi Kuning). diatas Ada kata -kata tentang Kesehatan, disini pun ada pemandangan yang membuat rakyat kecewa dikarena Kualitas Pelayanan Kesehatan tarhadap rakyat belum layak, pemimpin bukan meningkatkannya bukan tidak ada tapi ada meningkatkan cuma dimulut saja terjawab oleh tindakan yang dilakukannya berobat ke luar negeri...sungguh-sungguh rakyat berada dalam keadaan susah (rakyat dilarang sakit-jika sakit biaya nya mahal).
Di sektor lain yaitu bidang pertanian rakyat dihadapkan akan pupuk yang mahal dan belum adanya pemutakhiran teknologi pertanian yang maju dan berkualitas telah menjadi batu sandungan kamu petani, seharusnya pemerintah melakukan tindakan konkrit dalam pertanian ini dikarena secara umum rakyat aceh mata pencahariannya bertani, misalnya memprioritaskan belanja anggaran ke sektor ini menjadi salah satu indikator ekonomis kesejahteraan, malah serapan anggaran sangat lemah dari tahun ketahun (keuneulheuh but peu abeh anggaran dan biaya ata set-set tip-tip thon). Di atas pun ada tertera kata-kata pendidikan, disini juga sangat mengecewakan dikarenakan angka putus sekolah masih tinggi dan levelnya berada dibawah Daerah paling timur Indonesia yaitu Papua. Seharusnya Pemerintah Mengupayakan kemajuan pendidikan dengan memberikan pendidikan gratis kepada rakyat dengan segala sarana dan prassrana penunjangnya mulai dari buku mutkhir, lap komputer, tenaga pengajar yang handal (harus diperhitungkan juga kesejahteraan tenaga tersebut). Indikartor utama lainnya kesejahteraan rakyar aceh adalah menekannya angka kemiskinan dan penganggurang dengan menciptakan lapangan-lapangan pekerjaan baru agar bisa menyedot pengangguran dan gajinya harus sesuai dengan Kehidupan Hidup yang layak, ini pun belum ada (hana deuh lom). Bisa juga dengan program pembangunan home-home industri sesuai dengan potensi daerah tersebut juga akan menyerapa angka pengangguran secara otomatis sangat mempengaruhi angka kemiskinan, kita semua tau jika pengangguran nyan banyak dan rakyat hidup dibawah garis kemiskian menjadi salah satu penyebab lahirnya kriminalitas. Yang Paling Miris lagi dari semua pemandangan yang nampak dimata kita ialah SDA yang kaya tapi daerah miskin, buat apa banyak PT. PT besar yang megah sampai seantero dunia hanya menjadi kebanggaan sebuah nama saja yang ada hanya dampak kehancuran lingkungan, kesenjangan sosial disekitar proyek tersebut yang mengekplositasi hasil bumi (Penjajahan Gaya baru) betolak belakang dengan UUD-1945 Pasal 33. seharusnya Pemerintah harus mempuyai saham yang besar dari PT tersebut agar bisa meningkatkan pendapat daerah.
Alih-alih klaim pro rakyat dengan programnya malah pro akan investor asing (alasan menanam saham) agar membatu pembangunan aceh dengan menjual beberapa kekayaan alam yang potensial (disinipun lahir poh cakra apa gampong="anggaran ata kana han ek peu abeh saham dana dari investor pih tan). Kemudian rakyat dihapadkan pada muka perdagangan bebas sangat menggangu perekonomian domestik (rakyat-daerah) karena kalah bersaing dengan produk luar begeri yang lebih murah dibandingkan dengan harga produk daerah yang lebih malal harganya telah berimbas kepada matinya industri dan home-home industri didaerah yang otomatis menciptakan pengangguran baru.
Perdamaian mamang damai, akan tetapi pada ekonomis (bab Prut) adakah damai? menjadi sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh pemerintah dalam hal ini pemimpin, bisakah mensejahterakan rakyat? itupun sebuah pertanyaan. jika perdamaian dihadapkan dengan apa yang dirasakan rakyat ada jurang-jurang ketimpangan yang tiada tara (analisis yang kaya hanya pejabat manteng). Perdamaian dirasakan secara umum oleh rakyat aceh, tapi perdamaian perut hanya damai pada yang berkuasa saja menjadi sebuah tontonan yang selalu diperlihatkan pada muka publik. Bisa dipresiksi akan ada riak-riak batu dari persoalan tersebut menjadi batu sandungan terhadap perdamaian. Bukan hanya dikasih makan dengan janji-jani politik pada konstituennya dulu pada saat kampanye yang hanya menjadi pil penenang saja dari muka kusam sang rakyat yang menjadi babu dinegeri nya sendiri melayani para penguasa yang menghisap hak-hak dasar rakyat. Tentunya kontradiksi Pokok yang dihadapi rakyat aceh sekarang masih seperti waktu masa konflik dulu yang damai hanya konfliknya saja. Bisakah dalam dua tahun tinggal masa jabatnya menyelesaikan dan menjawab persoalan pokok yang dihadapi rakyat Aceh yakni lapangan pekerjaan, Pendidikan Gratis, Kesehatan Gratis dan mensejahterakan rakyat aceh, Saya sendiri berkesimpulan "Tidak". karena dalam pertengahan tahun 2011 Persaingan untuk maju menjadi pemimpin (penguasa) akan memanas tentunya segala kosentrasi akan ditumpahkan kepada hal tersebut dan lalai akan hal persoalan pokok rakyat. Ini membuktikan pertentangan kelas rakyat dengan kelas penguasa yang hanya mementingkab persoalan dirinya sendiri, kekuasaan dan kelompoknya, jika tidak terdamaikan akan ada kelompok baru yang lahir menghiasi perpolitikan dan perlawanan di aceh, sering terhembus berita burung di kedai-kedai kopi atau apalah nama tempat lainnya dengan adanya Kelompok kecewa dan sakit hati, benarkah andanya mereka? menjadi sebuah PR yang membutukah penelitian yang kofrehensif. Maaf bukan maksud menyinggung ke ranah tersebut!.
Real pokok yang dihadapi rakyat tetap persoalan kesejahteraan, haruskah perdamaian ini hanya sebatas kata sandang saja. Kongkritnya dijawab persoalan dasar tersebut.
By
Safri MS
